TELKOM Siap Antisipasi Penurunan Tarif Interkoneksi
By Riswan on Jan 30, 2008 in Berita
TELKOM,Januari 2008 – PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) mengakui bahwa regulasi interkoneksi yang baru (cost based) akan berdampak pada penurunan tarif seluruh operator, baik fixed maupun seluler. Jika regulasi tersebut benar-benar diimplementasikan, TELKOM berharap pola subsidi silang dalam penarifan baik di sisi interkoneksi maupun ritel lokal yang selama ini terjadi, tidak terjadi lagi pada 2008. Demikian dinyatakan Vice President Public and Marketing Communication TELKOM, Eddy Kurnia di Bandung (24/1). Ia yakin regulator cukup well-informed tentang dampak regulasi interkoneksi terhadap operator karena pihak regulator sendiri sudah sering menyuarakan soal itu sehingga masukan-masukan TELKOM juga tentunya masuk dalam pertimbangan regulator.
TELKOM telah mengantisipasi adanya rencana pemerintah untuk menurunkan tarif dengan mempercepat pembangunan alat produksi TELKOMGroup, yaitu: (1). Penambahan BTS Flexi minimal 3.000 buah sehingga jumlah total akhir 2008 akan mencapi minimal 5.000 BTS; (2). Penambahan BTS TELKOMSEL minimal 5.000 buah sehingga jumlah total akhir 2008 akan mencapai minimal 26.000 buah; (3). Perluasan penetrasi dan pengembangan bisnis baru seperti broadband, datacomm., internet dan un-organic business. Broadband misalnya, TELKOM akan membangun Speedy sekitar 1,2 juta satuan sambungan layanan (SSL) sehingga jumlah total akhir 2008 akan mencapai sekitar 1,5 juta SSL.
”Soal tarif interkoneksi dari mobile ke fixed, saya pikir Regulator pasti akan bertindak bijak karena kalau tidak, hal ini akan menjadikan iklim investasi di fixed line tidak kondusif bagi investor. Padahal teledensitas telekomunikasi (seluler, FWA dan fixed-line) di Indonesia masih sekitar 35%-40%, jika teledensitasnya hanya dihitung dari fixed-line dan FWA saja masih di bawah 10 % sehingga jumlah ini perlu ditingkatkan dengan cara mendorong lingkungan investasi yang lebih kondusif”, Eddy Kurnia melanjutkan.
Singapura misalnya dalam mewujudkan visi 2015, memberikan grant kepada konsorsium untuk pembangunan jaringan telekomunikasi sebesar US $ 520 juta atau setara Rp 4,8 triliun. ”Di Indonesia, konsorsium PalapaRing secara mandiri membiayai pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Kawasan Timur Indonesia di tengah-tengah rencana pemerintah menurunkan tarif jasa dan jaringan telekomunikasi, tentunya ini akan menambah beban konsorsium yang sebagian besar anggotanya adalah operator telekomunikasi. Pemerintah kelihatannya perlu mempertimbangkan memberikan insentif yang lebih menarik untuk mendorong investasi di sektor jaringan teolekomuniaksi”, kata Eddy Kurnia.
Popularity: 5% [?]



1 Comment(s)
By Ariv_79 on Jan 30, 2008 | Reply
Kl tarif tambah murah, kualitas jgn ikutan jd murahan lho! Jd inget operator yg klaim plg murah tp kualitasnya jd ancur total, he..he..